Dwi murniati

26 Januari 2026

Review buku Membasuh Luka Pengasuhan

                                                


                                                Judul buku : Membasuh Luka Pengasuhan

Penulis : Diah Mahmudah dan Dandi birdy

Kategori : Buku Pengembangan Diri

Bidang Ilmu : Pendidikan 

ISBN : 978-623-913-170-8.

Ukuran : 14×20 cm

Halaman : 168 hlm

Harga : Rp. 145.000

Tahun Terbit : 2020

                                                   Penerbit: Zenawa Giditama 

“Sosok kecil itu menangis, berharap ada sosok yang melindunginya, tapi tak ada satu pun yang datang untuk membelanya, menenangkannya dan melindunginya. Memberikan rasa aman untuknya”. 

Setiap orang dewasa membawa jejak masa kecil dalam dirinya, baik berupa kasih sayang maupun luka yang tidak terlihat oleh mata. Luka pengasuhan itu nyata. jika kita mau menelisik ke dalam diri dan merasakan ada yang tidak baik-baik saja dengan perasaan atau perilaku kita. Buku Membasuh Luka Pengasuhan karya Diah Mahmudah hadir sebagai jembatan kesadaran atas luka batin yang belum kita sadari, tapi perilaku kita yang terkadang seperti di luar sadar. Buku ini menawarkan jalan penyembuhan agar tidak diwariskan pada generasi berikutnya. 

Bab 1: Bentuk Luka Pengasuhan

Bab pertama buku ini membahas tentang apa saja bentuk perlakuan orang tua di rumah yang menciptakan luka pada diri anak seperti bentakan, pengabaian, pilih kasih pemberian label negatif dan penelantaran. Pola asuh apa saja yang bisa menyebabkan seorang anak menjadi seorang pembuli atau pun menjadi korban.  Apa hak dan kewajiban anak. 

Bab 2: Perspektif Islam

Bab kedua mengulas luka pengasuhan dalam perspektif Islam. Penulis mengajak pembaca memahami bagaimana mendidik anak secara Islami, sekaligus menekankan kembali hak hak anak menurut ajaran islam.

Bagaimana mendidik anak secara Islami dan membahas tentang hak anak. Setiap bab kurang dari 10 lembar kertas. jadi lebih mudah dibaca bagi ibu dan juga gen z yang kurang suka membaca bab yang berlembar-lembar. 

Bab 3: Asesmen Inner Child


Penulis juga menyediakan asesmen untuk mengetahui apakah ada luka inner child dalam diri kita disertai dengan tingkat kedalaman luka inner child di bab 3 ini.  Asesmen ini hanya sebentar, setelah selesai bisa melihat tabel skor langsung. 

Bab 4: Dampak Luka yang Belum Terselesaikan

Pada bab berikutnya pembahasan tentang dampak dari luka inner child yang belum disembuhkan atau diproses yang akan mempengaruhi perilaku dan cara seseorang memandang dirinya, dunia dan orang lain. selain itu dijelaskan juga dampak dari luka pengasuhan yang di ranah personal, pre marital, marital, sosial dan spiritual.  

Bab 5 dan Seterusnya: Jalan Penyembuhan

pada Bab 5 dan seterusnya ini pembahasan cara menyembuhkan luka pengasuhan  lebih mendalam bukan hanya dari segi teori tapi juga disertai dengan praktek ringan yang bisa dilakukan di rumah atau dimana saja, seperti teknik pernapasan dan butterfly hug.   Ada juga tantangan 40 hari sehat. Pada akhir halaman ada asesmen akhir setelah membaca dan mempraktekan buku ini. 

Gaya Penulisan dan Tampilan Buku

Buku ini relatif tipis, sekitar 160 halaman. Hurufnya besar dan spasinya longgar, sehingga nyaman dibaca, tidak membuat mata cepat lelah.  Kata dan kalimatnya pun mudah dicerna karena tidak terlalu banyak kata-kata ilmiah. Penulisnya menuliskan dengan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Penjilidan kuat sehingga kertas tidak mudah lepas. Ringan, mudah dibawa kemana-mana. 

Buku ini juga sedikit teori, tapi lebih banyak praktek. Seperti di bab 3 dan 5 praktek untuk membasuh luka pengasuhan. Ada assessment yang bisa dilakukan mandiri untuk mendeteksi apakah kita punya luka pengasuhan atau tidak, jika ada berapa levelnya. 

Buku ini cocok untuk calon ayah dan calon bunda, untuk ayah dan bunda dan untuk siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang luka pengasuhan dan cara menanganinya, bahkan cocok bagi yang baru mau belajar tentang luka pengasuhan. 

kekurangan buku ini menurut saya kurang mendalam karena banyak materi yang dijelaskan hanya sebatas pengenalan luka inner child. Belum sampai pembahasan  trauma yang berat, maka buku ini memang sangat cocok buat pembaca yang baru mau berkenalan dengan luka pengasuhan. masih banyak buku lain yang ditulis oleh Diah Mahmudah dan suaminya seperti yang tercantum di halaman-halaman terakhir buku ini.

Buku yang ditulis dengan bahasa yang lugas dan pendekatan yang memadukan psikologi serta nilai spiritual, praktek cukup mudah diterima dan dicerna pembaca. Buku ini bukan hanya bacaan reflektif, tetapi juga panduan praktis untuk berdamai dengan masa lalu dan membangun kehidupan yang lebih sehat secara emosional. Cocok dihadiahkan kepada saudara, tetangga, atau teman yang sedang mengalami luka pengasuhan. Sehingga bisa membantunya untuk bangkit kembali. 




28 November 2025

November 28, 2025

Ketika Aku Gagal

by
Ketika Aku Gagal


“Ketika aku gagal, bukan kegagalan itu yang membuatku kecewa, tapi perasaan tidak mampu, tidak kompeten, tidak diakui, tidak diterima,  dan ditolak. Perasaan itu terus menyerangku hingga dititik aku ingin lari dari siapapun yang mengenalku, ingin cepat-cepat melupakkan kejadian itu, ingin menghilangkan perasaan buruk ini, ingin lari dari dunia ini. Bersembunyi entah kemana”.


Pengalaman gagal menciptakan perasaan yang tidak nyaman, seperti rasa kecewa, tidak mampu, marah, menyesal, dan rasa malu. Kegagalan juga melemahkan keyakinan positif tentang diri kita. Kita merasa diri kurang pintar, kurang mampu, kurang terampil, kurang kompeten, kurang menarik, dan sebagainya. Hal ini membuat kita menjadi tidak percaya bahwa diri kita mempunyai kemampuan tertentu untuk ditampilkan. Hasilnya kita jadi merasa rendah diri (low self-esteem). Padahal satu kali, dua kali kita mengalami kegagalan bukan berarti kita adalah orang yang tidak kompeten. Kalau kita bandingkan dengan keberhasilan yang sudah kita raih, seberapa banyak kita mengalami kegagalan? Mengapa kita menghabiskan lebih banyak waktu memutar ulang adegan kita gagal dibandingkan momen kesuksesan kita? sehingga rasa tidak nyaman semakin meningkat.

Sebagian besar orang pernah mengalami kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan. Kegagalan adalah sebuah pengalaman yang pasti dialami oleh semua orang. kegagalan itu bagian penting dalam proses meraih kesuksesan. Saat belajar berjalan, belajar naik sepeda, mengendarai motor, tidak langsung bisa pada percobaan pertama. Akan melalui tahap jatuh, menabrak, salah pegang kendali, bahkan tidak sekali dua kali tapi bisa berkali-kali jatuh hingga akhirnya mencapai keberhasilan. Proses menerima rasa gagal itu memang tidaklah mudah, tapi berusaha menerima akan jauh membuat dadamu terasa lebih lega, pikiranmu lebih luas dan hatimu lebih bahagia. Jadikan pengalaman gagal ini untukmu lebih mengenal diri dan bertumbuh. Menerima sepenuhnya atas segalanya adalah satu-satunya cara untuk belajar, tumbuh, dan melangkah maju dalam hidup kita.

Perhatikan gambar di atas. Dari ilustrasi ini kita bisa menyimpulkan bahwa :

1.      Kegagalan tidak lebih banyak dari keberhasilan.

2.      Semakin banyak kita mencoba, resiko gagal semakin sedikit, karena saat gagal kita belajar. 

3.      Orang-orang yang mempunyai belief positif, meski gagal dia akan tetap mencoba karena dia yakin bahwa dia akan berhasil. 

4.      Orang yang sukses dan menjadi master di bidangnya adalah orang yang lebih banyak usaha dan lebih banyak gagal daripada yang sedikit mencoba.

Dr. Albert Ellis, penemu Rational Emotive Therapy, mengatakan bahwa kunci dari mental attitude (sikap mental) adalah keyakinanmu. Keyakinana ini menentukan caramu bersikap (behavior).  Peristiwa diluar diri kita baik peristiwa baik ataupun buruk akan kita temui di dalam perjalanan hidup kita. Katakanlah peristiwa ini disebut activating events (A).  Pada umumnya masyarakat sering menyalahkan A, yang menyebabkan penderitaan dan perasaan emosi yang buruk. Khususnya A yang buruk seperti kegagalan. Perasaan ini disebut Ellis sebagai konsekuensi sikap dan emosi (Emotional And Behavioral Consequencies, “C”).  kebanyakan orang berpikir bahwa :

A = C

A = tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara, kalah dalam pertandingan =

       kegagalan.

C = konsekuensi emosi dan perilaku : merasa tertolak, tidak kompeten, tidak pintar, tidak diakui, tidak diterima. (padahal bisa saja responnya tidak seperti ini).

A = C

Tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara (gagal) = merasa ditolak, tidak kompeten.

Padahal seharusnya tidak seperti itu. A tidak sama dengan C.  

                                                                   A ≠ c

                                Kegagalan tidak sama dengan ditolak atau tidak kompeten

Hubungan sebab akibat yang benar adalah :

A + B = C

B = Personal Belief System. Keyakinan personal.

Keyakinan ini yang meyebabkanmu memberikan penilaian dan interpretasi tertentu kepada dirimu.

                                                                             A + B = C (positif)

A = tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara, kalah dalam pertandingan.

B = Belief System = aku punya kemampuan, waktuku akan datang, aku pasti sukses.

C = ditolak, ketidakmampuan, tidak pintar, tidak diakui, tidak diterima. Aku merasa bangga terhadap diriku, masa depanku bagus, masih banyak kemampuan yang aku punya.

A + B = C (positif)

Tidak diterima kerja, tidak mendapat promosi, tidak menjadi juara + Belief System (aku punya kemampuan, waktuku akan datang) = Aku merasa bangga terhadap diriku, masa depanku bagus.

Dr. Ellis mengatakan : "Orang dan hal-hal tertentu tidak membuat kita kesal, melainkan diri kita sendiri yang membuat kesal dengan mempercayai bahwa orang dna hal di lur diri kita yang membuat kita kesal".

Jadi yang ditekankan disini adalah personal belief system seseorang. Jika kita punya belief system yang positif dan kuat. Peristiwa atau kejadian eksternal yang buruk seperti kegagalan, tidak akan mengubah keyakinan tentang diri kita yang baik sehingga sikap kita akan tetap optimis dan tetap semangat. Emosi kita akan tetap positif. Memandang kegagalan bukan karena ketidakmampuan kita, atau kita tidak pantas untuk menjadi juara tapi kegagalan itu dijadikan pijakan disisi mana yang harus diperbaiki. Bukan pada keseluruhan bahwa kita tidak mampu, tapi ada sebagian yang memang perlu ditingkatkan. Kalau kita sudah punya belief positif tentang diri kita, maka behavior atau tingkah laku kita juga akan positif. Kejadian-kejadian eksternal yang mencoba melemahkan keyakinan positif kita, tidak akan berhasil karena personal belief kita sudah mendarah daging, sudah kokoh sehingga tidak mudah digoyahkan oleh pengalaman-pengalaman eksternal yang kita alami atau kita saksikan tersebut.

Kokohnya belief ini didapatkan dari sejak kecil. Saat orang tua mengatakan bahwa “nak, kamu pasti akan sukses”. Ini belief yang dimasukkan oleh orang tua. Saat dewasa ketika anak mengalami peristiwa eksternal seperti kegagalan maka kegagalan itu tidak meruntuhkan kayakinan dirinya akan kesuksesannya. Sehingga behaviournya akan pantang menyerah, akan mencoba lagi, belajar lagi, tidak menyalahkan orang lain maupun dirinya. Masalahnya tidak semua orang tua memberikan keyakinan positif tentang diri anak kepada anak-anak mereka, bahkan banyak yang justru menginstal belief-belief negatif kepada anak-anaknya tentang diri anak dan belief tentang dunia di  luar dirinya. Jika pada saat masa pengasuhan, orang tua kita atau pengasuh kita tidak menanamkan belief-belief positif kepada diri kita, maka diri kita saat ini yang harus menanamkannya. Mungkin akan lebih sulit, tapi lebih baik mencoba dan berusaha lebih keras. Jika kita ingin mengubah masa depan kita, ubahlah keyakinan kita terlebih dahulu. Seberapa kuatkah personal belief system kita. Seberapa baikkah diri kita meyakini bahwa kita punya kemampuan seperti halnya orang lain. Sekuat apa kita meyakini bahwa diri ini berharga, layak untuk dihargai dan diterima. Akan terlihat saat kita mengalami kegagalan. Apakah kita tetap yakin akan segala  kemampuan yang kita miliki atau justru merasa diri tidak kompeten. Kita akan lebih mengenal diri sendiri.

Saat kamu merasa “kalah” dan “gagal”, seolah-olah sulit bagimu untuk melanjutkan hidup. Ambillah selembar kertas buatlah garis tengah. Di sisi kiri tulis kekuranganmu dan kegagalanmu. Di sisi kanan tulis kelebihanmu, segala hal yang kamu bisa, kamu kuasai, kamu punya, sekecil apa pun itu serta pencapaian-pencapaianmu. Jika kamu benar-benar mengeksplor hal ini seharusnya hal-hal di sisi kanan akan lebih panjang daripada hal di sisi kiri. Dengan kata lain kelebihanmu jauh lebih banyak dari kekuranganmu. Hanya saja kita lebih sering fokus hanya pada kekurangan saja. sehingga sebanyak apapun kelebihanmu, sehebat apapun kemampuanmu tertutupi oleh pikiranmu yang hanya memikirkan kekurangan dan kegagalanmu.

Kegagalan hanyalah bagian kecil dari dirimu, sedangkan kamu masih punya banyak  kelebihan lain yang belum dieksplor. Satu dari 10 core belief yaitu “You already posses the ability to excel in at least one area of your life”. Kuncinya pada kata “at least”, artinya paling tidak satu kelebihan artinya bahwa kamu bisa punya 2, 3, 10 kelebihan yang kamu miliki dan harus kamu gali. Satu area dimana kamu gagal mungkin bukan area yang kamu kuasai. 

Kita adalah sebuah rumah dengan pondasi yang kuat sehingga saat ada gempa dan badai sekalipun, maka kita akan tetap berdiri kokoh. Kita adalah pohon dengan akar yang panjang menghujam bumi. Sekuat apapun angin menghantam kita tak akan goyah, akan tetap kuat berdiri.





5 November 2025

Tes Kemampuan Akademik (TKA): Pengukur Potensi dan Kesiapan Akademis

Training of Trainer Komunitas Sidina  dan BKHM (Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat)

   Pada tanggal 24-26 Oktober 2025, saya mengikuti Training of Trainer Fasilitator Sidina Community bekerjasama dengan BKHM (Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat). Acara diadakan di gedung BBGTK Yogyakarta.

   Komunitas Sidina merupakan pusat belajar bagi para perempuan tentang pendidikan, parenting, bisnis dan pengembangan diri, dengan harapan setiap wanita menjadi pribadi yang SEHAT, CERDAS, dan BERDAYA. Komunitas ini memberikan ruang untuk para ibu yang ingin berkontribusi di masyarakat dengan tetap bertanggung jawab terhadap keluarga. Komunitas Sidina juga memberikan kesempatan bagi para ibu yang ingin mendapatkan penghasilan melalui job konten, virtual assistant, menulis, event attendee, trainer serta kesempatan volunteering menjadi fasilitator yang terjun langsung ke masyarakat. Sidina rutin memberikan Pelatihan Ibu Penggerak dan sudah mencetak 2.098 Ibu Penggerak. Saat ini sudah ada sekitar 200+ Fasilitator Ibu Penggerak (data Oktober 2024). Komunitas ini mengusung gerakan #IbuPenggerak #BerawalDariKeluarga untuk keluarga Indonesia yang lebih kuat.

Training ini membahas beberapa topik yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan seperti 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), Wajib Belajar 13 Tahun, Deep Learning, Sekolah Aman, Nyaman, dan Menyenangkan serta Tes Kemampuan Akademik (TKA). Kali ini saya ingin membahas tentang TKA.

Apa Itu Tes Kemampuan Akademik (TKA)?

   Tes Kemampuan Akademik atau TKA adalah penilaian terstandar capaian akademik murid yang dibuat oleh pemerintah berbasis komputer. Tes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu memahami, menganalisis, dan memecahkan persoalan secara sistematis — kemampuan yang sangat penting dalam kegiatan belajar maupun dunia kerja.

  Tes Kemampuan Akademik (TKA) tidak hanya mengukur pengetahuan faktual, tetapi lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis dan analitis. Dengan kata lain, TKA menilai potensi seseorang dalam menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah baru.


Latar belakang TKA

1. Penilaian yang belum terstandar

Pemerintah melihat bahwa adanya  permasalahan laporan capaian akademik individu yang tidak terstandar pada beberapa tahun terakhir menimbulkan beberapa permasalahan. Terutama dalam hal objektivitas dan keadilan penilaian. Kebutuhan adanya pelaporan capaian akademik individu murid secara terstandar sangat diperlukan.

2. Permasalah dengan pemberian nilai yang tidak adil.

Pemberian nilai yang tidak adil menimbulkan permasalahan pada seleksi di tingkat atas. Pemerintah berinisiatif merancang adanya TKA agar ada penilaian terstandar.

Tujuan Tes Kemampuan Akademik

TKA digunakan untuk situasi yang memerlukan data objektif capain akademik murid, seperti :

1. Seleksi masuk jenjang pendidikan lebih lanjut

Bagi siswa jenajang SMA/SMK/MA untuk masuk universitas dapat menggunakan TKA sebagai salah satu komponen seleksi masuk universitas. Bagi siswa SD bisa dipakai unutk masuk SMP, dan bagi siswa SMP dipakai unutk mendaftar SMA pilihan.

2. Mengukur sejauh mana individu memiliki kesiapan untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi

3. Penyetaraan jalur pendidikan

Skor TKA sering kali berkorelasi positif dengan keberhasilan belajar di masa depan, karena mengukur kemampuan berpikir yang mendasari berbagai bidang studi.

4. Pemetaan  mutu

TKA dapat membantu guru, dosen, atau lembaga pelatihan dalam memetakan kemampuan siswa untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat.

5. Perbaikan pembelajaran

Nilai dari TKA nantinya akan terlihat keberhasilan dari pembelajaran yang selama ini dilakukan. Jika hasilnya kurang berhasil maka akan dilakukan perbaikan dalam pembelajaran.


Jenjang yang mengikuti TKA

   Tes kemampuan akademik hanya diikuti oleh siswa-siswa di kelas akhir tiap jenjang yaitu murid kelas 6, 9 dan 12. Berikut jadwal perkiraan TKA tiap jenjang.

1. SD kelas 6 : Perkiraan Maret atau April 2026

2. SMP kelas 3 : Perkiraan Maret atau April 2026

3. SMA kelas 3 : 1- 9  November 2025


Pelajaran yang diujikan dalam TKA

1. SD dan SMP : Matematika dan Bahasa Indonesia

2. SMA : Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan pilihan dua mata pelajaran sesuai jurusan.

Adapun mata pelajaran (mapel) pilihan TKA untuk SMA/MA/sederajat & SMK/MAK adalah sebagai berikut :

üMatematika Tingkat Lanjut, Fisika, Kimia, Biologi.

üEkonomi, Sosiologi, Geografi, Sejarah, Pendidikan Pancasila (PPKn), Projek Kreatif dan Kewirausahaan.

üBahasa Indonesia Tingkat Lanjut, Bahasa Inggris Tingkat Lanjut, Antropologi.

üBahasa Jepang, Bahasa Korea, Bahasa Arab, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman.


Mekanisme Pelaksanaan TKA kelas 12

   Jadwal TKA Setiap gelombang SMA/SMK/MA :

Hari ke-1 : Sesi 1 : 07.30-10.00

                  Sesi 2 : 10.30-13.00

                  Sesi 3 : 14.00-18.30

Hari ke-2 : Sesi 1 : 07.30-12.40

                  Sesi 2 : 15.10-12.30

                  Sesi 3 : 13.30-15.40

TKA kelas 12 dilaksanakan tiga gelombang selama enam hari, sembilan sesi.


Moda Pelaksanaan

   Ada beberapa metode pengerjaan tes. Tes dilaksanakan online atau offline tergantung dari bagus atau tidaknya signal internet di daerah tersebut. Moda pelaksanaan TKA ada 3 :

1. Full Online : langsung ke server pusat.

2. Semi Online Token Online : diunduh dahulu soal ke server lokal, token autentikasi diperoleh online, & pengerjaan online.

3. Semi Online Token Offline: diunduh dahulu soal & token autentikasi ke server lokal & pengerjaan offline (Daerah Blank Spot).

 

 Hasil dan Skoring

   Sistem penilaian TKA adalah skala 0-100 (2 desimal). Hasil TKA bukan lulus atau tidak lulus tapi berdasarkan kategori yaitu Istimewa, Baik, Memadai, dan  Kurang.  Nantinya hasil ini bukan menjadi penentu lulus atau tidak lulus tapi sebagai acuan apakah anak sudah menguasai pelajaran tersebut dan bisa menjadi acuan untuk pembelajaran selanjutnya. Setiap peserta TKA akan mendapatkan Sertifikat Hasil TKA (SHIKA) yang diterbitkan pemerintah pusat berbentuk sertifikat digital dan dapat dicetak lewat sekolah.


Penulisan Soal dan Penjaminan Mutu

1. Penjaminan mutu soal SD dan SMP : Telaah soal di sistem aplikasi kementerian

Penulisan soal TKA untuk jenjang SD dan SMP dilakukan dan ditelaah di sistem aplikasi kementerian. Kabupaten/kota menulis soal (satu kabupaten kota minimal 1 paket untuk setiap mata pelajaran perjenjang). Kabupaten/kota menelaah soal sebanyak paket yang disusun.

Provinsi menunjuk guru dan ditetapkan oleh kementerian sebagai Fasilitator Nasional Penjaminan Mutu. Provinsi menunjuk guru sebagai reviewer dan didampingi dosen sebagai validator. Fasilitator nasional akan  mendampingi penyusunan soal oleh kabupaten/kota. Reviewer didampingi validator akan menelaah seluruh butir soal yang disusun oleh kabupaten/kota. Provinsi melakukan pengacakan paket untuk digunakan TKA (Paket Utama, Paket Cadangan dan Paket Susulan). 

2. Penjaminan mutu soal SMA/SMK/MA

Soal TKA untuk jenjang SMA/SMK/MA dibuat oleh kementerian. Jadi soalnya sama di semua sekolah di seluruh Indonesia. 

Jenis Kemampuan yang Diukur dalam TKA

   Kemampuan yang diukur berbeda-beda tiap mata pelajaran dan tiap jenjang.

1. Kemampuan Verbal:
Mengukur daya nalar melalui bahasa, seperti sinonim, antonim, padanan kata, dan pemahaman bacaan. Contoh: Menentukan makna kata atau hubungan antar kata.

2. Kemampuan Numerik:
Menguji kemampuan berhitung, memahami pola angka, serta logika matematika dasar. Contoh: Deret angka, perbandingan, atau soal aritmatika sederhana.

3. Kemampuan Logika:
Mengukur kemampuan menganalisis pola berpikir, menarik kesimpulan, dan memahami sebab-akibat. Contoh: Menentukan pernyataan yang benar berdasarkan data atau premis tertentu.

4. Kemampuan Spasial dan Analitik:
Mengukur kemampuan memahami pola visual, bentuk, dan hubungan antar-objek. Contoh: Menyusun potongan gambar menjadi bentuk utuh.

Manfaat Mengikuti TKA

   TKA sifatnya tidak wajib, tapi siswa disarankan untuk ikut agar :

1. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri dalam berpikir analitis dan logis.

2. Meningkatkan kesiapan menghadapi ujian akademik, seperti seleksi masuk     perguruan tinggi atau rekrutmen kerja.

3. Melatih kemampuan berpikir sistematis dan cepat, karena tes ini biasanya berbatas waktu.

4. Menjadi dasar untuk perencanaan karier dan pendidikan sesuai potensi diri.

Kesimpulan

Tes Kemampuan Akademik bukan sekadar ujian, tetapi cerminan kemampuan berpikir seseorang dalam menghadapi persoalan secara rasional dan terukur. Dengan memahami konsep dan latihan yang cukup, TKA dapat menjadi sarana efektif untuk mengenali potensi diri serta mempersiapkan masa depan akademik dan karier yang lebih baik.


Daftar Referensi Materi :

1. www.rumahpendidikan.com

2. https://pusmendik.kemendikbud.go.id/TKA

#FasilitatorSidinaCommunity

#IbuPenggerak

#SosialisasiFasilitatorSidina

#PendidikanBermutuUntukSemua

 

13 Oktober 2025

Review Buku Bringing up Bebe

 


Foto diambil di sini

          "After a few more restaurant meals, I notice that the French Families all around us don’t look like they’re in hell. Weirdly, they look like they are on vacation. French children the same age as Bean are sitting contentedly in their high chairs,  waiting for their food, or eating fish and even vegetables. There’s no shrieking or whining. Everyone is having one course at a time. And there’s no debris around their tables". (Bringing Up Bebe halaman 2)

Setelah beberapa kali makan di restoran, Pamela melihat ada yang berbeda dengan anak-anak Prancis. Saat makan di restoran, mereka seperti sedang berpiknik. Mereka bisa duduk diam sambil menunggu makanan yang dipesan datang. Tidak merengek minta makanan cepat datang. Pun saat makan tidak ada remahan makanan yang berceceran. Pamela penasaran dan mulai memperhatikan bagaimana orang-orang Prancis mendidik anaknya.

Tulisan ini ada di buku berjudul “Bring up bebe. Buku ini membahas bagaimana orang tua di Prancis mendidik anak-anak mereka untuk bisa bersikap baik seperti ini. Buku ini ditulis oleh Pamela Druckerman. Dia adalah mantan reporter untuk The wall street Journal. Buku ini ditulis saat Pamela pindah ke Paris. Pamela sendiri adalah orang Amerika dan suaminya orang Inggris, tapi bekerja di Paris. Berawal dari sebuah makan malam di sebuah restoran saat dia mulai menyadari adanya perbedaan anaknya dengan anak-anak di Paris. Anak-anak Amerika cenderung berantakkan saat makan di restauran, sedangkan anak-anak Prancis sangat teratur. Mereka bisa menunggu makanan datang dengan sabar sembari duduk tenang. Mereka juga bisa makan dengan baik tanpa memainkan makanan atau melempar makanan. Sedangkan anaknya baru beberapa menit sudah mulai menumpahkan garam dan menyobek bungkus gula. Kemudian meminta turun dari kursinya agar bisa berlarian di restoran. Mereka pun harus buru-buru meninggalkan restoran.

Bagaimana dengan anak-anak Indonesia, tidak jauh berbeda bukan dengan anak-anak Amerika. Kita pasti sering menemukan kejadian serupa di restoran khususnya restoran cepat saji yang menyediakan arena playground. Tempat makan itu seperti bukan sebuah tempat makan lagi, tapi lebih menyerupai playground atau taman bermain. Kita tidak akan menemukan meja yang benar-benar bersih saat sebuah keluarga dengan anak-anak kecil mereka. Nasi berserakan di meja, saus berceceran. Belum air yang tumpah ke lantai. Pun tidak berbeda dengan makan di restoran yang lebih bersih. Kita tetap akan melihat anak-anak yang berlarian. Tidak bisa duduk sebentar saja. Saya pun mengalami pengalaman yang sama saat membawa anak saya yang waktu itu usia 2 tahunan. Syukurnya anak saya tidak terlalu berlarian, hanya saat setelah dia selesai makan lalu akan mencari kegiatan yang asyik menurutnya apalagi jika bukan berlarian di tempat makan. Kadang saya membawa beberapa mainan yang akan membuatnya diam untuk beberapa menit, seperti mobil-mobilan atau kegiatan seperti menempelkan stiker di buku atau membawa buku cerita agar dia bisa diam, setidaknya sampai kami selesai makan. Saya juga lebih memilih untuk makan di rumah saja atau minta dibungkus saja makanannya. Makan di restoran sepertinya menjadi hal yang sangat menjengkelkan.

Bersikap tenang di restoran hanya salah satu hal yang dibahas di buku ini. Banyak hal lain  yang akan kita temukan dalam setiap chapter di buku ini. Bagaimana ibu-ibu di Amerika (juga Indonesia) begitu stress saat punya bayi karena mereka harus begadang menenangkan bayi mereka. Sementara ibu-ibu di Prancis bisa tidur dengan nyenyaknya. Bayi mereka sudah bisa tidur sendiri di malam hari dan hanya bangun 2-3 kali itu pun hanya 5 menit. Pembahasan tentang memasukkan anak ke daycare, jam makan, menyusui dan hal lain yang akan saya bahas sedikit yang masih relate dengan model pola asuh di Indonesia.

Orang tua di Prancis sudah biasa memasukkan anak-anak mereka ke day care saat usianya baru 2 tahun. Sedangkan di Amerika hal ini tidak lazim. Begitu pun di Indonesia. Orang tua akan cenderung membayar baby sitter atau nanny untuk mengasuh anak mereka. Apa alasan orang tua di Prancis memasukkan anak mereka ke daycare di usia yang masih tergolong kecil. Kita akan temukan di buku ini.

Ada lagi pembahasan waktu makan anak atau jam makan anak-anak. Jika di Prancis hanya ada 4 kali makan, makan pagi, makan siang, snack sore dan makan malam. Sedangkan di Indonesia yang saya perhatikan adalah makan pagi, makan buah, makan snack, makan siang, snack sore, makan malam. Lumayan banyak waktu makannya ya.

Pembahasan yang masih hangat di Indonesia pun dibahas dibuku ini yaitu “breastfeeding” atau menyusui. Saya pun tertarik. Alasan mereka menyusui sangat berbeda dengan alasan menyusui sebagian besar ibu-ibu di Indonesia, ya terlepas dari budaya dan agama yang mempengaruhi. Terus kenapa kebanyakan ibu di Prancis adalah seorang pekerja atau working mom. Apa alasannya. Jawabannya ada di buku ini.

Di Indonesia, khususnya keluarga kelas bawah yang tinggal di perkampungan di tengah kota yang tingkat pendidikannya rendah banyak yang berbicara kasar dan tidak pantas. Kata-kata seperti a*nj**ng, b**o dan lainnya.  Ternyata di Paris anak-anak diperbolehkan mengatakan hal tersebut. Di sana anak-anak biasa mengatakan caca boudin, semacam umpatan. Tapi bagaimana penerapannya. Hal itu akan dibahas juga dalam buku ini. Anak-anak juga terkadang punya rasa marah atau kesal. Mereka boleh melampiaskan kemarahan mereka tapi itu pun ada aturannya. Sedangkan di Indonesia, saat kita cenderung mengatakan kamu tidak boleh mengatakan “bad words” itu. Sedangkan pada kenyataannya di sekitar mereka justru orang-orang dewasa sering mengucapkannya.      

Di Prancis dan juga beberapa negara di Eropa, setiap sekolah menerapkan  summer trip untuk anak-anak usia 4 sampai 8 tahun (hal ini pun dibahas dalam buku Teach Like Finland) yang dikarang oleh Timothy D Walker. Mungkin Anda berpikir bahwa trip ini  hanya 2 hari dan orang tua harus ikut. Ternyata trip itu adalah 8 hari dan orang tua tidak boleh mendampingi. Bagaimana jika ini diterapkan di Indonesia ya. Pasti banyak yang ga mau ikut, termasuk saya. Karena alasan keamanan, anak yang masih kecil, bagaimana jika dia lapar, bagaimana jika di perlu sesuatu, banyak alasannya. Bahkan Pamela pun awalnya khawatir dan tidak rela melepaskan anaknya untuk liburan 8 hari tanpa dirinya. Bagaimana dia mengatasinya. Pembahasannya dibuku ini.

Masih banyak hal yang akan dibahas dalam buku ini seperti bagaimana ibu-ibu di Prancis begitu seksi meski sudah punya 3 anak, tidak seperti kebanyakan ibu-ibu di Amerika atau Indonesia apalagi India dan Arab ya. Setelah melahirkan otomatis badannya langsung besar. (jangan tersinggung dulu ya). Apa ya kiat-kiat mereka agar tetap langsing?

Kemudian bagaimana hubungan antara suami dan istri setelah punya anak. Ada juga pembahasan tentang sex setelah mereka punya anak.  Bagaimana saat anak-anak sudah mulai tumbuh dewasa. Memang tidak semua yang ada dalam buku ini bisa diterapkan di Indonesia. Di Prancis, anak usia 17 tahun diperbolehkan untuk tinggal sendiri. Kalau di Indonesia hanya saat kuliah, bekerja atau setelah menikah boleh keluar dari rumah. Mungkin hanya anak-anak kuliah yang bisa kos karena rumahnya jauh, jika rumahnya masih terjangkau dengan kendaraan, maka mereka tidak diizinkan untuk tinggal sendiri. Orang tua khawatir anak mereka akan mengikuti pergaulan bebas jika tidak diawasi.



Banyak sekali ilmu yang bisa kita ambil dari buku ini yang tebalnya 260 halaman. Lumayan ya apalagi kalau bahasanya Bahasa inggris, jadi malas bacanya ya. Untungnya sekarang sudah ada versi terjemahan Bahasa Indonesia. Jadi lebih mudah dicerna. Cocok juga dibaca untuk yang mau menikah sebagai bekal saat punya anak. Menurut saya buku ini sangat “worth reading”. Bahkan untuk guru-guru di playgroup atau di daycare.  Bahasanya pun mudah dimengerti, ringan, santai dan lucu juga meski memakai Bahasa Inggris. Jika ada yang tidak dimengerti tinggal buka kamus online.(ga kaya dulu ya meski cari kamus dulu).

Buat yang sudah baca buku ini pasti bilang buku ini bagus. Saya seharusnya membaca buku ini sebelum punya anak tapi tidak ada salahnya membaca buku ini meski anak sudah besar sebagai ilmu buat saya. buku ini layak menjadi referensi orang tua dan calon orang tua di Indonesia untuk mendidik anaknya mempunyai sikap yang baik dan demi keharmonisan rumah tangga. Adapun yang tidak sesuai dengan adat dan budaya di Indonesia, maka tidak perlu dipakai.

Once you read this book, you can’t stop reading it.

@templatesyard