Senin, 20 Desember 2021

Inner child

 



    Belakangan ini sedang ramai dibicarakan tentang Inner child. Inner child ini menjadi hal yang dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap dunia dan dirinya saat dewasa. Tapi apa itu inner child, Apa saja bentuk inner child itu dan apa saja dampaknya.

    Dari segi bahasa Inner artinya batin, child artinya anak kecil. Inner child bisa diartikan sebagai sosok anak kecil yang ada didalam jiwa kita. Sosok anak kecil ini tidak pergi, dia menetap didalam diri dan membentuk diri kita saat ini dan mempengaruhi kehidupan kita seperti saat merespon masalah, saat berinteraksi dengan orang lain dan saat membuat keputusan. Dilansir dari Psychology Today, inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil, yang baik atau buruk, dan membentuk kepribadian seseorang seperti sekarang ini.

  Setiap orang mempunyai pengalaman masa kecil, Pengalaman ini bisa pengalaman yang membahagiakan atau pengalaman yang menyedihkan. Seseorang yang mempunyai pengalaman masa kecil yang membahagiakan seperti dicintai, dihargai, diberi rasa aman, akan tumbuh dengan membawa rasa bahagia itu ketika dewasa. Sebaliknya, seseorang yang mengalami masa sedih saat kecil seperti tidak dicintai, tidak dihargai, disakiti secara fisik maupun psikis akan membawa rasa sedih ini juga hingga dewasa.

    Pengalaman-pengalaman atau kejadian-kejadian masa kecil ini akan tertanam di alam bawah sadar yang suatu saat nanti bisa menjadi dorongan dalam menghadapi masalah kehidupan bersosial seseorang. Bersyukur jika kita mempunya pengalaman masa kecil yang indah karena pengalaman ini berdampak positif. Permasalahannya ada pada seseorang yang mempunyai pengalaman pahit atau menyedihkan yang belum terselesaikan dengan baik. Seperti apa itu?


    Contoh pengalaman atau Inner child yang buruk :

1. Abandonment (penelantaran): ditelantarkan, diabaikan, ditinggalkan.

Penelantaran ini bisa karena perceraian orangtua, apalagi jika cerainya secara tidak baik. Ayah menikah lagi dan punya keluarga lain dan ibu harus bekerja yang menyebabkan si anak terabaikan. Bisa juga karena kedua orang tuanya meninggal lalu diasuh oleh orang yang tidak menyayanginya atau ada anak yang memang diabaikan oleh orang tuanya.

2. Rejection (penolakan): penolakan oleh teman, keluarga, atau lingkungan.

Penolakan ini bisa terjadi karena perbedaan status, misalnya karena miskin, karena tidak cantik, karena tidak pintar.

3. Humiliation (penindasan) : direndahkan, dihina, dilabeli negatif.
  
Banyak orang tua yang sering sekali memarahi anaknya dengan kata-kata yang menjatuhkan mental anak. Sering di labeli buruk. Misalnya : “kamu bodoh”, “kamu ga bisa ngapa-ngapain”, “lihat teman kamu bisa ini itu”. Bayangkan kata-kata ini diucapkan setiap hari dan tersimpan di alam bawah sadar sang anak.

4. Betrayal (penghianatan): dihianati oleh orang yg dipercaya.

Dihianati teman atau dihianati pacar bisa menyebabkan trauma.

5. Injustice (ketidakadilan): diperlakukan tidak adil oleh keluarga atau lingkungan

Ketidakadilan ini bisa berupa diperlakukan tidak baik, selalu disalahkan meski tidak salah. Kekerasan baik fisik dan psikis seperti dipukul, dibuli atau disiksa.



    Seberapa besar pengaruh inner child yang belum terselesaikan dengan baik pada orang dewasa. Pengalaman menyakitkan yang dialami saat kecil tidak serta merta langsung berdampak buruk saat itu juga, tapi biasanya pengalaman itu akan tersimpan di otak bawah sadarnya. Jika pengalaman menyakitkan ini terjadi terus menerus atau setiap hari, maka akan terakumulasi, menumpuk dan saatnya nanti akan keluar dalam bentuk yang berbeda-beda. Misalnya :

1. Memiliki Emosi yang Tidak Stabil.

Emosi itu ada beberapa seperti, cinta, bahagia, kenikmatan, sedih, marah, takut, malu, terkejut, jijik. Emosi-emosi ini semuanya bermanfaat dan sifatnya sementara dan bisa berubah karena satu dan lain hal. Makanya seseorang bisa sedih saat mendengar berita duka cita seperti kematian, bencana, atau kecelakaan. Bisa bahagia saat mendengar berita bahagia. Pada seseorang yang inner child nya belum terselesaikan dengan baik emosi ini bisa berubah dengan sangat cepat (mood swing) misalnya sedang dalam keadaan senang tiba-tiba menjadi sangat marah tanpa terkendali. Marahnya bisa hanya karena hal-hal kecil, misalnya marah mendengar suara bayi yang menangis. Ini bisa karena saat kecil dia disuruh diam saat hendak menangis. Seorang Ayah atau ibu bisa marah hanya karena anaknya menumpahkan air saat minum. Karena saat kecil mereka juga sering disalahkan saat menumpahkan air atau saat melakukan kesalahan kecil lainnya. Bisa juga mereka menjadi orang yang mudah tersinggung, marah dan berteriak, serta mudah memutus relasi sosial atau menarik diri.

2. Terlalu ambisius

Biasanya terjadi pada orang yang saat kecil sering dilabeli bodoh, dilabeli tidak bisa apa-apa, di banding-bandingkan dengan anak lain. Saat dewasa mereka berusaha dengan sedemikian rupa untuk bisa sukses, mereka bekerja lebih dari orang lain, mereka belajar lebih keras dan mencari hal-hal baru untuk dipelajari. Keberhasilan mereka adalah pembuktian bahwa mereka tidak bodoh, mereka bisa melakukan sesuatu, mereka layak untuk dihargai. Biasanya mereka berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan tapi jiwa mereka tidak bahagia, karena mereka melakukan hal ini sebagai sebuah pembuktian saja. Mereka akan haus akan pencapain-pencapain baru, ingin mencoba hal-hal baru yang pada akhirnya tidak mereka lanjutkan karena memang bukan passionnya. Mereka hanya ingin diakui bahwa mereka pintar, meraka layak untuk dihargai. Meskipun mereka berhasil tetapi Jiwa mereka lelah mengejar pengakuan. Bagi orang yang mempunyai luka inner child, kegagalan ialah musuh terbesar mereka. Buat mereka kegagalan adalah kesalahan. dan jika mengalami kegagalan mereka akan frustasi, emosi yang meledak seperti marah, lalu mereka menarik diri dari keluarga atau pergaulan hingga yang sangat fatal adalah melukai dirnya sendiri ataupun bunuh diri.

3. Sering Merasa Bersalah, tidak enakan, tidak bisa menolak.

Merasa bersalah karena hal-hal kecil misalnya merasa bersalah karena memberikan hadiah yang mungkin biasa. Merasa tidak enak saat menolak ajakan teman belanja meski saat itu dia sedang ada urusan penting lainnya. Ini bisa jadi pertanda ada masalah serius dengan inner child. Dia menjadi people pleasure, selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain meski dirinya terluka.

4. Melakukan kekerasan

Seseorang yang masa kecilnya pernah diperlakukan kasar baik secara fisik (seperti dipukul, ditendang, dicubit, ditampar, dilecehan) maupun psikis (seperti dibentak dengan kata-kata kasar, dihina, diejek) oleh orang tuanya atau orang yang bertanggungjawab merawatnya akan cenderung untuk melakukan hal yang sama kepada anaknya atau bahkan kepada orang lain. Bahkan kita sering sekali mendengar berita-berita kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang seperti berita seorang ayah atau ibu yang memukul, mencubit, mengatakan kata-kata kasar kepada anaknya hingga melakukan pembunuhan kepada anaknya. Ini bisa dikarenakan inner child mereka yang belum terselesaikan dengan baik. Meski mungkin ada faktor-faktor lain yang juga ikut mempengaruhi misalnya lingkungan yang buruk, pendidikan yang rendah.

5. Menarik diri

Ada orang yang pendiam, tidak suka berteman atau berinteaksi dengan orang lain. Mereka lebih memilih untuk sendiri. Sebenarnya mereka sedang mencoba menghindar dari hal-hal dan orang-orang yang bisa membuat mereka terluka. mereka yang pernah terluka hatinya, akan berusaha untuk tidak terluka lagi dengan cara menghindar dari hal-hal atau orang-orang yang menurut mereka akan melukai mereka. Dalam kesendirian mereka berteriak, menangis, berharap ada yang datang, menghiburnya, mendengarnya dan menyembuhkannya.

6. Psikosomatis

Secara etimologi, psikosomatis terdiri dari dua kata, yaitu pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Jadi, secara harfiah psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh. Memang dalam banyak kasus penyakit, kondisi mental yang kurang baik juga memengaruhi tubuh seseorang hingga memicu penyakit atau memperparah penyakit yang sudah ada (halodoc). Penyakit ini seperti sakit mag, sakit kepala seperti migrain, vertigo, GERD, sesak napas.

7. Stress, Depresi, hingga ingin melakukan bunuh diri.

Seseorang yang pernah mengalami pengalaman yang buruk seperti kekerasan, pemerkosaan, perundungan, pelecehan seksual saat kecil atau remaja tanpa adanya bantuan psikologis rentan akan stress, depresi bahkan bunuh diri. Depresi bisa berbeda-beda tiap orang. Kadang tidak tampak dari luar. Bisa saja dia terlihat sedih atau bisa terlihat bahagia sekali, bisa menarik diri atau bisa berinteraksi sosial, bisa saja tampak tidak berdaya atau bisa juga terlihat sangat kuat, pantang menyerah, pekerja keras. Jika tidak ditangani dengan baik semakin lama akan semakin buruk. Mereka merasa bahwa hidup itu tidak ada artinya lagi buat dia. Kematian mungkin akan memberikan kehidupan baru yang jauh lebih baik. Dengan kematian penderitaanya akan berakhir.


    Setiap orang ingin hidup bahagia. Setiap orang punya cara sendiri untuk mendapatkan kebahagiannya. Inner child dapat menghambat seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan. Maka kita perlu memeriksa kesehatan mental kita. Sebagaimana WHO mendefinisikan sehat sebagai “keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Jika mental kita sehat maka akan mudah untuk merasakan kebahagiaan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar